penembak paus yohanes paulus II
Pada 13 Mei 1981, Yohanes Paulus II hampir tewas ketika ditembak oleh Mehmet Ali Ağca, seorang ekstremis Turki, kala masuk Lapangan Santo Petrus untuk bertemu umat. Ağca akhirnya dihukum penjara seumur hidup.
Mengapa,
bagaimana dan atas perintah siapa percobaan pembunuhan ini dilakukan,
masih tetap berupa misteri sampai akhir Maret 2005. Dikatakan
dokumen-dokumen penting dari negara-negara mantan anggota Uni Soviet menunjukkan bahwa KGB bertanggung jawab [1]. Motif pembunuhan masih diperdebatkan. Salah satu kemungkinan ialah bahwa rezim komunis Uni Soviet takut akan pengaruh Paus Polandia ini akan stabilitas negara-negara satelit Soviet di Eropa Timur, terutama di Polandia sendiri.
Spekulasi lain menuduh orang-orang dalam Vatikan yang memberi perintah, terutama faksi kaum Freemason yang menentang Karol Wojtyła dan kelompok Opus Dei,
yang salah satu pemimpinnya adalah Kardinal Casaroli. Ali Ağca sendiri
masih bungkam dalam mengungkapkan kebenaran percobaan pembunuhannya,
meski ia sering memberikan petunjuk bahwa ia mendapatkan pertolongan
dari orang dalam Vatikan.
Dan akhirnya
ada yang mengatakan bahwa Ağca, seorang penembak ulung, sebenarnya bisa
membunuh sang Paus, jika mau dan misinya hanyalah menakut-nakutinya.
Namun segala kemungkinan hanya merupakan spekulasi saja karena belum
ada bukti-bukti definitif yang muncul.
Dua hari setelah Natal, pada 27 Desember 1983, Paus menjenguk pembunuhnya di penjara.
Keduanya bercakap-cakap dan berbincang-bincang beberapa lama. Setelah
pertemuan ini, Paus kemudian berkata: "Apa yang kita bicarakan harus
merupakan rahasia antara dia dan saya. Ketika berbicara dengannya saya
anggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya
percayai sepenuhnya."
Naik takhtanya Yohanes Paulus II sebagai Paus sudah diramalkan beberapa dasawarsa sebelumnya oleh Padre Pio.
Biarawan yang sama ini, juga meramal bahwa pemerintahan Karol Wojtyła
hanya berlangsung singkat dan berakhir dengan darah, sebuah ramalan
yang hampir saja terbukti jika pembunuhannya berhasil. Percobaan
pembunuhan ini juga diramalkan pada rahasia ketiga Tiga Rahasia Fatima, sebuah analisis dari Vatikan mengungkapkannya.
Sebuah percobaan pembunuhan lainnya terjadi pada 12 Mei 1982, di Fatima, Portugal ketika seorang pria berusaha menikam Paus dengan sebilah bayonet, tetapi dicegah oleh para penjaga. Si pembunuh, adalah seorang pastor ultrakonservatif, berhaluan keras, seorang warganegara Spanyol, bernama Juan María Fernández y Krohn. Dilaporkan ia menentang reformasi Konsili Vatikan II
dan memanggil Paus seorang "agen dari Moskwa." Ia kemudian divonis
hukuman penjara enam tahun dan lalu diekstradisi dari Portugal.
Ada pula sebuah percobaan pembunuhan Paus pada lawatannya di Manila bulan Januari 1995, yang merupakan bagian dari Operasi Bojinka, sebuah serangan terorisme masal yang dikembangkan oleh anggota kaum ekstremis Ramzi Yousef dan Khalid Sheik Mohammed.
Seorang bom bunuh diri yang menyamar sebagai seorang pastor direncanakan mendekati parade Paus dan meledakkan diri. Namun sebelum tanggal 15 Januari 1995
hari para pria ini akan melaksanakan rencana teror mereka, sebuah
kebakaran dalam sebuah apartemen membawa para penyidik yang dipimpin
oleh Aida Fariscal ke komputer laptop Yousef yang berisikan rencana-rencana teror mereka.
Yousef dicekal di Pakistan kurang lebih sebulan kemudian, tetapi Khalid Sheik Mohammed baru dicekal pada 2003.



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda